Coba perhatikan anak balita. Mereka bermain dengan sebayanya, lalu mulailah muncul sifat posesifnya, dan salah satu dari mereka tiba-tiba menginginkan mainan yang sedang dipegang oleh balita lainnya. Lalu, terjadilah perebutan mainan, dan salah satu memukul yang lainnya, maka pecahlah tangis.

Lalu datanglah orang dewasa mencoba memisahkan mereka, dan salah satu balita, biasanya yang pertama kali merebut mainan, langsung digendong untuk menjauh. Balita itu pun menangis, namun orang dewasa itu lalu mencoba mengalihkan perhatian balita tadi kepada hal lain yang akan menarik perhatiannya. Balita itu pun perlahan mulai berhenti menangis, lalu tertarik pada hal baru yang diperlihatkan kepadanya, lalu asyik bermain.

Dan setelah 15 menit berlalu, kedua balita itu bisa dipertemukan kembali, dan mereka pun kembali asyik bermain seperti sebelumnya, seolah tak pernah terjadi ‘perseteruan’ di antara mereka.

Lalu coba perhatikan diri kita sendiri, dan cobalah mulai bertanya pada diri sendiri:

“Kenapa kalau aku sudah menginginkan sesuatu dari dunia ini maka aku bisa sedemikian ngototnya, tak peduli dengan apa yang sudah ada di tangan atau tersedia di hadapan mata? Kenapa yang kumau hanyalah obsesiku, keinginanku, kehendakku, hasratku? Kenapa hanya itu yang kuinginkan? Dan, kapankah kiranya aku mulai belajar mendendam, menyimpan dan memupuk kebencian hingga bertahun-tahun seperti sekarang? Kenapa sampai aku terbiasa bersumpah diam-diam dalam hati: ‘kalian yang telah menyakitiku, tak akan kuampuni hingga mati; biar Allah yang melaknat kalian di dunia dan akhirat…’? Kenapa kita jadi saling menyakiti lagi dan lagi satu sama lain?”

Cerita tentang manusia yang bertambah usia adalah cerita tentang kematangan cara berpikir, kematangan biologis dan lain sebagainya. Namun, di sisi lain, juga merupakan cerita tentang kejatuhan manusia menjadi makhluk yang gemar mendendam, membenci, memelihara sifat buruk untuk saling menyakiti.

Belajar filsafat atau ilmu rumit apa pun hanya membuat pikirannya rumit; namun, kebencian berbuah dendam menahun itu, tetap saja tak bisa diajak untuk berpikir jernih. Yang terjadi seringkali adalah kecanggihan untuk berpura-pura: ‘Kalian aku maafkan kok’ tapi dalam hati sih ‘semoga kalian celaka dunia akhirat!’

Seringkali orang menunjuk ‘golden memories’ adalah pada masa mudanya, pada saat tubuh masih kuat, wajah masih menawan, dan hasrat masih membara.

Padahal, kalau melihat “betapa bersihnya kita dari dendam dan obsesi serta hasrat tak kenal ampun seperti sekarang ini”, maka seharusnya ‘golden memories’ itu adalah pada masa balita kita. Saat kita menjadi manusia yang suci tanpa dosa dan tanpa dendam…

Itulah kenapa setiap Idul Fithri saya selalu gagal merasakan bahwa saya sudah menjadi orang yang suci sesuci bayi, atau “kembali ke fithrah” katanya. Tapi, saya tahu dengan pasti, bahwa saya tak pernah gagal menghabiskan ketupat beserta gulai cubadak dan rendang hingga 3 atau 4 piring di hari raya Idul Fithri tersebut. Serta tetap saja bangkit hawa nafsu saya jika ada yang mengusiknya.