Figur Abstrak Seniman Indonesia

 

 

Karya-karya alumni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya­karta ini memiliki kekhasan ide. Ia acap memainkan figur dalam setiap karyanya.

Karena itu, ia menyebut karyanya itu beraliran abstrak figuratif. Secara kasat mata karya-karya Gatot terlihat abstrak, tapi masih terasa figurnya.

Seorang pecinta seni dari Jakarta, Samuel Hartono, mengungkapkan, karya Gatot sangat kuat dan ekspresif dalam warna dan ide. Karya-karyanya selalu memunculkan sikap optimistis.

“Yang unik dari karya dia, setiap bentuk yang ditampilkan selalu bertumpuk-tumpuk, tetapi setiap sisi itu membentuk figur, yang menggambarkan manusia sebagai makhluk sosial selalu saling bergan­tung,” ujar Hartono yang sudah mengoleksi beberapa lukisan karya Gatot.

Bicara soal karir, Gatot tampaknya dilahirkan untuk menjadi seniman. Darah seninya mengalir dari sang ayah yang mantan polisi. Hanya saja, sang ayah bu­kan di seni lukis melainkan di seni musik.

Dulu, ayahnya adalah anggota korps musik ABRI. Ketika awal-awal memasuki ISI Yogyakarta, mulanya Gatot ingin men­jadi mahasiswa lazimnya seperti teman kuliah lainnya: kuliah, lulus, lalu menentu­kan pekerjaan untuk masa depannya.

Namun, jiwa seni Gatot tak bisa dibendung ketika ia memutuskan memilih jurusan seni rupa. Keinginannya untuk menghasilkan karya lukisan ketika sulit untuk “direm” sejak semester I.

Hampir setiap hari ia berkarya. Berbagai ajang pameran baik di dalam maupun di luar kampus ia ikuti. Bahkan, ketika memasu­ki semester enam, ia pernah mengikuti pameran lukisan di Tokyo, Jepang. Gara-gara kesibukan berkarya itulah kuliah Gatot jadi molor. “Saya lulus setelah 10 tahun kuliah,” ujarnya sambil terbahak.

Ada kesan tersendiri saat lukisannya diikutkan pada pameran di Jepang. Dia mengaku, ada seorang pakar seni asal Jepang yang mengkritik karyanya. Pakar seni itu hanya menuliskan kalimat “Terlalu Bagus” pada karya gatot, tidak diulas panjang lebar

Sejak itulah Gatot mulai aktif mengikuti pameran di beberapa negara di Asia seperti China dan Korea pada 1998.

Apa yang membuatnya terobsesi menjadi seniman? Pria ini mengaku bangga dengan dosen-dosen saya di ISI Yogyakarta. Mereka adalah seniman top di Indonesia, seperti Pak Fajar Sidik dan Pak Nyoman Gunarsa.

Kebanggaan Gatot ter­hadap para dosennya itulah yang menginspirasi dirinya berangan-angan ingin menjadi seniman yang merdeka. Merdeka dalam arti bukan seniman yang besar karena “digoreng” atau dieksploitasi.*