Tidak hanya dalam bentuk keris, pusaka di Istana Yogyakarta terdiri dari berbagai jenis, seperti mahkota, sumping, akik, tombak, wedhung, aneka ragam simbol kerajaan, manuskrip kuno, arsip sejarah, wayang kulit, gamelan, gerobak kuda, kendi, spanduk dan alat untuk memasak (Hamengku Buwono X, 2002).

Keris sebagai warisan memiliki tempat penting dalam sejarah Islam Mataram di Jawa.

Keris telah menjadi simbol dan alat legitimasi kekuasaan yang harus hadir dengan setiap suksesi kekuasaan.

Selesainya dua keris, yakni Kanjeng Kiai Ageng Kopek dan Kanjeng Kiai Ageng Joko Piturun, bisa ditafsirkan dalam tiga kemungkinan.

Pertama, di dunia spiritual Jawa, makna sempurna sering digunakan untuk menyelesaikan kata.

Dalam kosmologi Jawa, setiap orang adalah wayang yang hidup untuk menjalani tingkah laku dalam usahanya mewujudkan kesempurnaan hidup.

keris keraton jogja

Begitu kesempurnaan itu tercapai, tugasnya di dunia ini dianggap selesai dan akan diingat oleh Sang Pencipta.

Arti sederhana yang bisa ditangkap adalah bahwa Sultan ingin menyelesaikan peran kedua pusaka dalam dinamisme yang ada di Istana Sultan.

Kemungkinan kedua adalah menggabungkan dua pusaka di keris baru.

Upaya menggabungkan dua atau lebih keris menjadi keris, sebelumnya dilakukan oleh Pangeran Diponegoro, yang menggabungkan ketiga kerisnya menjadi keris, dengan judul Kanjeng Kiai Ageng Bondoyuda.

Keris menjadi pusaka terpenting beberapa pusaka Pangeran Diponegoro yang digunakan dalam Perang Jawa (1825-1830).

Selanjutnya, kemungkinan ketiga adalah membuat keris dengan bentuk baru tanpa mengubah keris yang ada.

Pertimbangan yang paling mungkin adalah bahwa kedua keris dianggap tidak sempurna, sehingga diperlukan keris baru yang dianggap mampu mengatasi kekurangan keris.

Mencari alternatif baru

Berdasarkan banyaknya wacana yang beredar bahwa putri Sultan, GKR Mangkubumi, akan dipersiapkan sebagai mahkota putri, perlu dicari alternatif keris tetap yang digunakan sebagai salah satu instrumen untuk legitimasi kekuasaan

Meski kerisnya identik dengan warisan pria, sejarah membuktikan bahwa keris juga dibuat dan cocok untuk wanita yang disebut keris Patrem.

Berbeda dengan keris normal yang cocok untuk pria, Patrem memiliki rangkaian yang lebih kecil dan lebih pendek dari 5 cm-30 cm dari segi daun fisik.

Baik keris Patrem dan jenis keris lainnya memiliki fungsi yang sama dengan pusaka pribadi dan senjata untuk melindungi diri mereka bila diperlukan.

Mungkin juga jika Sultan merasa puas, dapat mengambil alternatif dengan menjadikan Chris Patrem sebagai anak perempuannya sebagai salah satu instrumen untuk legitimasi kekuatan istana.

Berdasarkan zaman yang telah berubah, tidak mungkin paugeran juga telah berubah untuk mengikuti perkembangan zaman.

Begitupun, keris selalu berkembang, semi nunggak, mengikuti waktu tanpa meninggalkan tradisi dan budaya yang sudah ada.

Aturan untuk menebus penggunaan pusaka bisa diubah, karena ini adalah hak istimewa Sultan sebagai raja.

Upaya ini, meski akan membawa pro dan kontra, akan meminimalisasi kerusuhan yang ada.

Selain itu, akan menjawab pertanyaan publik tentang kelanjutan tradisi menyerahnya keris sebagai instrumen suksesi kekuasaan yang tidak hanya mengungkap monopoli laki-laki saja.

referensi : jual keris , lazada.co.id