Sebuah lagu yang menyatakan bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara dengan lakonnya kita semua dan sang sutradara dan sekaligus produsernya merupakan Sang Khalik, seperti melebur pada kenyataan hidup keseharian kita. Sayangnya kita tidak menghafal benar script naskah dan kontrak hidup yang telah kita setujui bersama Sang Khalik ketika kita hanya sebuah harapan dari sepasang manusia yang menginginkan seorang buah hati.

Yup, betul. Kita telah membaca naskah hidup kita sebelum kita menjalaninya, kita telah mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita dan kapan kontrak tersebut selesai dan kita harus kembali ke dalam serambi-Nya.

Andai saja kita masih mengingat sebaris saja naskah lakon kita ini, tentu kita tidak perlu bertanya-tanya apa peran kita di dunia.Pertanyaan dasar yang kadang terjawab dan kadang menguap begitu saja, seperti Untuk apa kita hidup, Buat apa hidup kita ini, Kemana tujuan kita hidup…dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Ada beberapa yang mungkin telah terjawab dan beberapa masih menjadi misteri alam.Yang aku yakini pasti, setiap insan manusia yang terlahir ke dunia ini tentu disisipi sebuah misi dan peran tertentu.Sekecil apapun misi dan peran tersebut, baik misi dan peran yang baik maupun yang terburuk sekalipun.

Bukankah semua porsi tersebut haruslah seimbang. Bila ada kebaikan di dunia ini tentu saja tetap ada keburukan menyertai.Baik kebaikan maupun keburukan itu ada, sudah pasti berperan besar bagi diri kita maupun dunia ini.

Apakah kita membawa kebaikan pada peran yang kita bawa ataukah kita membawa keburukan pada peran yang kita miliki. Atau kita hanya ingin berperan sebagai penyimak dari segala peran yang baik maupun yang buruk, itu pun juga salah satu peran yang kita pilih…sebagai penonton!Kebaikan yang ada mengajarkan welas asih dan rasa saling menyayangi, sedangkan keburukan mengajarkan keberingasan dan rasa benci. Tidak semua kebaikan pula akan selalu berdampak baik dan tidak semua keburukan akan berdampak buruk pula.

Maksudnya?Tidak salah menjadi orang baik, tapi bila kita dengan lantang menyatakan bahwa aku orang yang baik. Apakah benar ada kebaikan dari orang baik itu yang dengan lantang menyebut dirinya sendiri baik. Dari sana timbullah keburukan akan orang tersebut, kebaikan yang diberikannya seperti kebaikan semu yang berselimut dengan kemunafikan dan keinginan untuk dipuja.

Memang tidak baik untuk menjadi orang yang berperilaku buruk, tapi tiap manusia pasti punya sisi buruk. Keburukan yang kita perbuat ataupun orang lakukan terhadap kita memang menimbul goresan yang sangat menyakitkan, tapi bukankah dengan mengetahui dan menyadari keburukan tersebut kita akan bisa belajar dari keburukan itu sendiri. Paling tidak menimbulkan suatu rasa bahwa kita tidak boleh seburuk itu baik pada diri sendiri ataupun orang lain. Kebaikan dapat tumbuh dari keburukan, bila kita bisa mencari solusi pemecahannya.

Semua berpulang pada Anda, peran mana yang akan anda pilih. Kalau saya yang ditanya, semoga kebaikan ataupun keburukan yang telah saya sebar tidak menjadikan saya ataupun orang lain merasa kalau saya berlebih dari yang lainnya. Karena keduanya menimbulkan rasa tinggi hati, kebaikan yang semu akan timbul rasa munafik dan keburukan yang terlalu akan timbul rasa bahwa dirinyalah si pemilik kuasa akan segalanya! Semoga kita dijauhkan dari hal itu…Ada sebuah doa, semacam doa penyembuh untuk mengatasi keduanya, doa ini saya temui yang dipakai para pengguna narkoba dalam masa rehabilitasinya.

Kira-kira seperti ini…Ya Tuhan karunialah diriku ketentraman batinUntuk menerima hal-hal yang takkan mungkin kuubahKeberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa kuubah dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.

Source: hipwee.com